Pelatihan Ektraksi Minyak Tengkawang 2019

Musim tengkawang di Kapuas Hulu sudah mulai berakhir. Harga buah tengkawang kering sangat rendah hanya sekitar Rp 2.000,-/kg. Padahal pada musim tengkawang sebelumnya harga berkisar antara Rp 6.000-Rp 7.000/kg. Akibatnya banyak buah tengkawang yang jatuh di hutan tidak dikumpulkan masyarakat. Beruntung bahwa ada yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi di musim ini, sayangnya jumlahnya terbatas, hanya 10 ton. Harga buah tengkawang yang diminati adalah buah tengkawang yang diproses dengan cara direbus atau direndam terlebih dahulu baru di keringkan dengan di jemur di panas matahari.

Kesempatan ini digunakan oleh Yayasan Riak Bumi untuk melatih masyarakat Dusun Ngaung Keruh di Desa Labian untuk memproduksi minyak tengkawang. Buah yang diperlukan adalah buah yang diproses dengan cara direbus dan di jemur, bukan dengan cara diasapkan atau di salai. Hal ini karena permintaan pasar minyak tengkawang yang menginginkan minyak tengkawang yang tidak berbau asap.

Minyak tengkawang diproses dengan mengunakan mesin penggiling untuk menghancurkan buah, kemudian baru di kukus dengan dandang pengukus. Segera setelah itu serbuk tengkawang yang telah dikukus dimasukan ke dalam saringan dan kemudian dipress dengan alat press hidrolik. Seketika itu juga minyak tengkawang akan keluar dan ditadah. Biasanya dalam jangka waktu paling lama 3 hari minyak tengkawang menjadi padat seperti mentega.

Festival Makanan Tradisional dan Kebudayaan 2016

Potensi sumber daya alam yang kaya di bumi Kapuas Hulu ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan.  Beragam bahan baku tersebut diolah sedemikian rupa menjadi sebuah kuliner tradisional yang khas dan dapat dinikmati banyak orang sebagai wisata kuliner.  Hutan yang menyediakan sumber bahan makanan bagi masyarakat di sekitar hutan yang secara turun temurun telah dikelola secara bijaksana adalah upaya masyarakat dengan kearifan tradisi untuk menjaga keanekaragaman hayati yang tersedia di alam secara berkelanjutan yang juga mendukung upaya pengembangan desa hijau.

Read more: Festival Makanan Tradisional dan Kebudayaan 2016

Lokalatih Penelitian Aksi Partisipatif oleh CIFOR 2016

Lokalatih Penelitian Aksi Partisipatif ini dilaksanakan oleh Center for International Forestry Research (CIFOR) dengan mitra termasuk Yayasan Riak Bumi di sekitar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dalam proyek PEER dalam rangka pelaksanaan proyek penelitian aksi berjudul "Pengelolaan Daerah Aliran Sungai terpadu untuk meningkatkan mata pencaharaian lokal dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia". Dalam lokalatih yang dilaksanakan pada tanggal 30 Mei-3 Juni 2016 ini berbagi pengalaman tentang situasi masing-masing di wilayah proyek di Sumbawa, Sulawesi Tenggara, Makassar dan Kalimantan Barat untuk menyamakan persepsi pengelolaan DAS dan berbagai pengetahuan terkait metodologi penelitian, teknik pengumpulan data, analisa data kualitatif dan kuantitatif, penulisan hasil penelitian dan lain-lain serta perencanaan penelitian aksi selama 3 tahun kedepan. 

Pertemuan Nelayan Sungai Tawang Danau Sentarum 2015

Sebagai masyarakat yang memanfaatkan hasil dari sumber daya alam di kawasan Danau Sentarum, masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum juga menyadari bahwa sumber daya alam patut di jaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Untuk itu dari turun-temurun masyarakat telah memiliki aturan dan kearifan lokal yang tertuang dalam aturan setempat atau aturan adat yang diantaranya di sebut dengan peraturan nelayan dan aturan adat untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Aturan setempat antara lain mengatur tentang pengelolaan sumber daya alam berupa ikan, kayu madu dan rotan, selain itu juga diatur tentang jenis-jenis alat tangkap yang bisa digunakan dan tidak boleh digunakan misalnya bubu, pukat, jala, tuba dan setrum listrik. Di dalam aturan setempat juga diatur soal orang luar, perburuan binatang, pembakaran dan lainnya. Jika mengingat kembali sejarahnya, di tahun 1995 pernah ada gagasan untuk membagi kawasan Danau Sentarum menjadi 6 wilayah kerja kelompok nelayan untuk memudahkan pengorganisasian kelompok nelayan, pembagian ini mempertimbangkan segi kesamaan letak di satu aliran sungai, kesamaan kecamatan dan bahkan kesamaan suku. Gagasan pengorganisasian ini tidak terhenti, para pihak kemudian berinisiatif untuk mendukung upaya konservasi di Taman Nasional Danau Sentarum dengan mengadakan pertemuan nelayan Sungai Tawang pada Maret 2011 lalu dan merumuskan impian dan rencana aksi dengan dukungan dari Julia Aglionby. Kami menyadari bahwa aturan lokal sangat diperlukan untuk mendukung upaya konservasi secara partisipatif bersama masyarakat dan untuk itu perlu diperkuat. Oleh karenanya pada Desember 2015, Yayasan Riak Bumi bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Danau Sentarum memfasilitasi pertemuan nelayan sungai Tawang untuk penguatan hukum adat dalam pengelolaan SDA di Taman Nasional Danau Sentarum.

 

Festival Makanan Tradisional dan Kebudayaan 2015

Festival Makanan Tradisional dan Kebudayaan Kapuas Hulu dilaksanakan oleh Yayasan Riak Bumi bekerjasama dengan NTFP-Exchange Programme Indonesia di Desa mensiau Kecamatan Batang Lupar. Festival kali ini merupakan edisi khusus "survival". Kegiatan yang dilaksanakan pada bulan Desember 2015 melibatkan sekitar lima puluh orang dari beberapa kampung di Kecamatan Batang Lupar. Peserta berlomba memasak dan menyajikan makanan dan minuman khas dengan bahan-bahan alami yang dikumpulkan dari hutan. Peserta juga memperlombakan olahraga tradisional antara lain menyumpit, menari dan juga dilaksanakan upacara adat penerimaan tamu dengan pakaian adat suku Dayak Iban di rumah panjang Keluin.