Pertemuan Nelayan Sungai Tawang Danau Sentarum 2015

Sebagai masyarakat yang memanfaatkan hasil dari sumber daya alam di kawasan Danau Sentarum, masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum juga menyadari bahwa sumber daya alam patut di jaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Untuk itu dari turun-temurun masyarakat telah memiliki aturan dan kearifan lokal yang tertuang dalam aturan setempat atau aturan adat yang diantaranya di sebut dengan peraturan nelayan dan aturan adat untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Aturan setempat antara lain mengatur tentang pengelolaan sumber daya alam berupa ikan, kayu madu dan rotan, selain itu juga diatur tentang jenis-jenis alat tangkap yang bisa digunakan dan tidak boleh digunakan misalnya bubu, pukat, jala, tuba dan setrum listrik. Di dalam aturan setempat juga diatur soal orang luar, perburuan binatang, pembakaran dan lainnya. Jika mengingat kembali sejarahnya, di tahun 1995 pernah ada gagasan untuk membagi kawasan Danau Sentarum menjadi 6 wilayah kerja kelompok nelayan untuk memudahkan pengorganisasian kelompok nelayan, pembagian ini mempertimbangkan segi kesamaan letak di satu aliran sungai, kesamaan kecamatan dan bahkan kesamaan suku. Gagasan pengorganisasian ini tidak terhenti, para pihak kemudian berinisiatif untuk mendukung upaya konservasi di Taman Nasional Danau Sentarum dengan mengadakan pertemuan nelayan Sungai Tawang pada Maret 2011 lalu dan merumuskan impian dan rencana aksi dengan dukungan dari Julia Aglionby. Kami menyadari bahwa aturan lokal sangat diperlukan untuk mendukung upaya konservasi secara partisipatif bersama masyarakat dan untuk itu perlu diperkuat. Oleh karenanya pada Desember 2015, Yayasan Riak Bumi bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Danau Sentarum memfasilitasi pertemuan nelayan sungai Tawang untuk penguatan hukum adat dalam pengelolaan SDA di Taman Nasional Danau Sentarum.