Eco-Tourism

PENDAHULUAN

Danau Sentarum merupakan salah satu kawasan konservasi terbesar di kabupaten Kapuas Hulu setelah Taman Nasional Betung Kerihun. Dengan luas kawasan Taman Nasional Danau Sentarum sebesar 132.000 hektar yang telah ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 34/Kpts/II/1999.

Sebagai kawasan Taman Nasional dengan tipe ekosistem lahan basah yang masih tersisa dengan kekayaan flora dan fauna yang masih terjaga kelestariannya, Danau Sentarum menyimpan pesona keindahan yang luar biasa menarik bagi wisatawan lokal dan manca negara. Keadaan ini merupakan peluang bagi meningkatkan pendapatan daerah sekaligus tetap menjaga kawasan Taman Nasional yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan lingkungan disekitarnya dan bahkan bagi dunia.

Pemerintah daerah tingkat II Kabupaten Kapuas Hulu telah menetapkan strategi untuk meningkatkan pendapatan daerah antara lain dengan memprioritaskan sektor pariwisata. Langkah yang telah dilakukan adalah dengan adanya pembentukan dinas pariwisata di daerah Kabupaten Kapuas Hulu pada bulan Februari 2001 lalu, persiapan sarana infrastruktur berupa jalan lintas utara dan pembukaan pintu gerbang antar negara di Badau.

Dalam hal pariwisata, Riak Bumi mempunyai program khusus, yang disebut dengan “ekoturisme” atau “eco-tours” sebagai bentuk keperdulian dalam bidang ini. Riak Bumi telah mempunyai pengalaman dan menyediakan beberapa paket wisata di Danau Sentarum untuk mendatangkan beberapa turis manca negara.

KONSEP

Ekoturisme adalah hal tentang menciptakan dan memuaskan suatu keinginan akan alam, tentang mengeksploitasi potensi wisata untuk konservasi dan pembangunan dan tentang mencegah dampak negatifnya terhadap ekologi, kebudayaan dan keindahan.

TUJUAN

Beranjak dari konsep di atas, maka tujuan dari pada ekoturisme di Danau Sentarum adalah untuk membantu menjaga lingkungan maupun tradisi budaya masyarakat dengan memberikan nilai ekonomi bagi keberadaan kawasan Taman Nasional itu sendiri .

Dengan demikian, selain memberikan manfaat bagi lingkungan, kegiatan ekoturisme ini juga bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Adapun manfaat yang diterima oleh masyarakat adalah dari sarana transportasi milik masyarakat berupa penyewaan perahu (sampan), sarana penginapan, sajian budaya tradisional berupa tarian, pemandu wisata setempat dan penjualan bahan-bahan kerajinan yang dihasilkan masyarakat.

OBYEK

Landscape

  • Panorama Danau Sentarum dari atas bukit
  • Pemandangan Danau Sentarum pada musim kering

Flora Fauna

burungeko

  • Bekantan, burung enggang, elang, raja udang, biawak
  • Tanaman hias dan anggrek
  • Berbagai jenis tipe hutan rawa gambut

Kebudayaan

  • Tarian dan musik tradisional
  • Upacara adat
  • Nelayan mencari ikan
  • Kegiatan berladang
  • Panen madu lebah hutan
  • Rumah panjang
  • Rumah terapung

 

KEGIATAN

  • Bird watching
  • Swimming
  • Fishing
  • Canoeing
  • Trekking

FASILITAS

  • Kapal motor
  • Long boat
  • Speedboat
  • Sampan
  • Rumah penduduk

 

Lilin Lebah

Sebelum adanya kegiatan pemasaran dan produksi lilin lebah ini, belum pernah dijual lilin lebah. Biasanya dibuang saja atau hanya dalam jumlah sedikit dipakai untuk melicinkan benang untuk menjahit.

Berdasarkan survey pasar, ternyata ada pangsa pasar yang berminat membeli lilin lebah  dengan harga yang relatif lebih tinggi dari madu. Bahkan lilin lebah dapat diolah menjadi dian dan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Untuk itu pada tahun 1995 kita bersama masyarakat mengumpulkan lilin lebah dan memproduksi lilin bambu (bamboo candle) dan  lilin celup (dipped candle) setelah mendapatkan pelatihan cara membuatnya, serta memulai membantu memasarkannya.

Sama seperti halnya madu, lilin lebah juga mengalami stagnasi produksi pada tahun 1998 sampai 1999, karena adanya asap dari kebakaran hutan pada tahun 1997 tersebut. Pada tahun 2000 ketika musim panen madu mulai produksi kembali, lilin sudah ada yang membeli di tingkat masyarakat. Hingga saat ini, Riak Bumi masih mencari peluang untuk memasarkan produk ini.

Kalau normalnya produksi panen madu di Danau Sentarum 20 ton pertahun per musim, maka mestinya ada 10 : 1 produksi lilin dari sarang lebah. Itu artinya ada sekitar 2 ton per tahun dari kawasan ini. 

Forest Honey

Potensi madu dari Danau Sentarum sangat besar, setiap musim panen diperkirakan 20 – 25 ton madu pertahun yang dihasilkan dari seluruh kampung-kampung nelayan dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

new_imageKegiatan pemasaran madu telah dimulai pada tahun 1995,  ketika Proyek Konservasi Suaka Margasatwa Danau Sentarum oleh Wetlands International Indonesia Programme. Kemudian pada tahun 1997 produksi madu terhenti, kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh adanya kebakaran hutan yang memproduksi asap luar biasa ketika itu, sehingga selama  2 tahun berturut-turut tidak ada produksi madu dari Danau Sentarum. Baru pada tahun 2000 mulai ada kembali produksi madu, meskipun jumlahnya tidak seperti musim-musim biasanya, tapi sudah menunjukan peningkatan terus-menerus, sehingga sampai tahun 2003 produksi sudah kembali normal dan kegiatan pemasaran madu dilanjutkan kembali.

Masalahnya adalah harga madu yang diterima oleh masyarakat dari penjualan ke pedagang lokal relatif sangat murah. Standar harga madu sama dengan harga gula.

Untuk itu, kami mencoba berupaya meningkatkan pemasaran madu dengan memotong rantai pemasaran madu dari Danau Sentarum langsung ke Pontianak dan meningkatkan kualitas madu dengan pelatihan perbaikan kualitas, sehingga masyarakat mempunyai nilai tawar kepada pedagang lokal maupun luar untuk menaikan harga yang relatif lebih sesuai. Perbaikan mutu juga akan meningkatkan posisi tawar dengan pihak pasar, karena ada alasan yang rasional untuk meningkatkan nilai jual.

Perbaikan teknik panen lebah madu di Danau Sentarum merupakan hasil studi banding beberapa orang dari Danau Sentarum ke Vietnam pada tahun pada tahun 1996. Proses belajar tidak hanya berhenti di situ. NTFP Excange Program for Asia and South East Asia yang berkantor pusat di Manila  mendukung studi banding ke India untuk belajar proses paska panen dan pemasaran madu di  Keystone Foundation. Beranjak dari waktu itu beberapa teknik panen dan proses paska panen yang baik diambil dan dicoba kembangkan di Danau Sentarum.

Beberapa teknik panen yang dikembangkan adalah:

a. Pemanenan di siang hari

b. Sistem pengasapan

c. Pemanenan sarang madu/lebah

Biasanya panen dilakukan pada waktu malam hari, katanya lebih jinak dibandingkan pada waktu siang hari, tapi dengan panen malam hari, lebah biasanya tidak bisa kembali lagi ke sarangnya atau jatuh ke air dan mati, karena lebah memerlukan matahari untuk membantu navigasinya.

Asapan yang digunakan dengan menggunakan akar kayu tidak hanya mengusir lebah tetapi juga membunuh, karena lebah menyerang bara api ketika malam. Dengan teknik pengasapan dengan smoker bisa mengatasi jumlah kematian lebah.

Sarang lebah tidak dipanen seluruh sarang, tetapi hanya kepala madu tempat lebah menyimpan madunya. Dengan demikian, lebah dapat membuat kembali kepala madu dan mengisinya kembali jika pakan cukup banyak musim itu. Dengan begitu, bisa lebih dari sekali panen satu sarang semusim.

Selain itu, teknik perbaikan kualitas juga diterapkan dengan cara melakukan pemurnian madu tersebut. Teknik pemurnian ini dilakukan dengan cara mengambil hanya kepala madu dan mengiris sarangnya untuk memisahkan madu dari sarangnya. Cara lama adalah dengan memeras sarang mengunakan tangan dan tercampur dengan pollen.

Kegiatan perbaikan teknik panen dan kualitas madu lebah hutan ini terus dilaksanakan ke kampung-kampung di Danau Sentarum hingga saat ini. Sekarang ini kelompok petani madu hutan (periau) di Danau Sentarum sudah membentuk Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) dan baru mendapatkan sertifikasi organik Mei 2007 lalu dari BIOCert. Hingga sekarang tidak kurang ada 5 periau atau kelompok petani madu binaan yang menerapkan sistem baru ini yang memproduksi madu asli dengan kualitas terjamin dan jumlahnya akan terus bertambah. Tahun ini ada sepuluh kampung yang menyatakan kesediaannya menjadi anggota asosias.

Jika anda pencari madu hutan asli, Riak Bumi tidak hanya bisa menyediakan madu hutan asli tetapi berkualitas dan organik. Silahkan segera hubungi kami. 

Anyaman

Masyarakat di kawasan Danau Sentarum sejak turun-temurun telah mempunyai ketrampilan membuat anyaman. Sebagian besar bahan baku anyaman adalah dari rotan. Anyaman rotan ini dibuat untuk alat kepertikar_bembanluan sehari-hari seperti: perangkap ikan, bakul untuk menyimpan dan membawa barang.

Selain dibuat anyaman, rotan oleh masyarakat dijual dalam bentuk bahan mentah kepada perusahaan kayu. Kenyataan menunjukan dengan Rp 2,500,- yang diterima oleh masyarakat dari penjualan rotan, bisa memproduksi sekitar 50 anyaman. Dan penganyam bisa memperoleh Rp 125,000,- untuk jumlah rotan yang sama setelah dibuat anyaman dan dijual. Berdasarkan survey pasar, ternyata produk anyaman juga mempunyai prospek pasar di luar, hanya harganya relatif lebih mahal dibandingkan, karena biaya transportasi yang tinggi.

Kegiatan ini dimulai sejak tahun 1995, meskipun intensitasnya tidak begitu banyak, namun hingga sekarang produksi anyaman dan pemasaran terus berlanjut.

Kain Tenun

kain_tenunMasyarakat suku Iban mempunyai ketrampilan membuat kain tenun secara tradisional dari generasi ke generasi. Kain tenun yang oleh masyarakat setempat disebut “pua kumbo” sebagian besar diwarnai dengan pewarna alami yang bahan bakunya dari daun, buah dan akar kayu yang tumbuh secara liar di sekitar hutan.

Kain tenun yang biasanya dipakai untuk pakaian adat pada upacara-upacara tertentu ini sangat mendukung upaya konservasi hutan, karena bahan-bahannya diambil dari hutan, sehingga mulai tahun 1995 hingga sekarang kegiatan pemasaran kain tenun ini tetap diupayakan.

Jenis produk ini sangat eksklusif, karena dibuat dengan tangan (hand made) dan bukan merupakan pekerjaan utama masyarakat, makanya perlu waktu yang relatif lama membuat dan harganya cukup mahal. Sehingga biasanya hanya dijual kepada para turis yang langsung datang atau dipasarkan di Pontianak dan Serawak dalam jumlah yang relatif sedikit.