Forest Honey

Potensi madu dari Danau Sentarum sangat besar, setiap musim panen diperkirakan 20 – 25 ton madu pertahun yang dihasilkan dari seluruh kampung-kampung nelayan dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

new_imageKegiatan pemasaran madu telah dimulai pada tahun 1995,  ketika Proyek Konservasi Suaka Margasatwa Danau Sentarum oleh Wetlands International Indonesia Programme. Kemudian pada tahun 1997 produksi madu terhenti, kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh adanya kebakaran hutan yang memproduksi asap luar biasa ketika itu, sehingga selama  2 tahun berturut-turut tidak ada produksi madu dari Danau Sentarum. Baru pada tahun 2000 mulai ada kembali produksi madu, meskipun jumlahnya tidak seperti musim-musim biasanya, tapi sudah menunjukan peningkatan terus-menerus, sehingga sampai tahun 2003 produksi sudah kembali normal dan kegiatan pemasaran madu dilanjutkan kembali.

Masalahnya adalah harga madu yang diterima oleh masyarakat dari penjualan ke pedagang lokal relatif sangat murah. Standar harga madu sama dengan harga gula.

Untuk itu, kami mencoba berupaya meningkatkan pemasaran madu dengan memotong rantai pemasaran madu dari Danau Sentarum langsung ke Pontianak dan meningkatkan kualitas madu dengan pelatihan perbaikan kualitas, sehingga masyarakat mempunyai nilai tawar kepada pedagang lokal maupun luar untuk menaikan harga yang relatif lebih sesuai. Perbaikan mutu juga akan meningkatkan posisi tawar dengan pihak pasar, karena ada alasan yang rasional untuk meningkatkan nilai jual.

Perbaikan teknik panen lebah madu di Danau Sentarum merupakan hasil studi banding beberapa orang dari Danau Sentarum ke Vietnam pada tahun pada tahun 1996. Proses belajar tidak hanya berhenti di situ. NTFP Excange Program for Asia and South East Asia yang berkantor pusat di Manila  mendukung studi banding ke India untuk belajar proses paska panen dan pemasaran madu di  Keystone Foundation. Beranjak dari waktu itu beberapa teknik panen dan proses paska panen yang baik diambil dan dicoba kembangkan di Danau Sentarum.

Beberapa teknik panen yang dikembangkan adalah:

a. Pemanenan di siang hari

b. Sistem pengasapan

c. Pemanenan sarang madu/lebah

Biasanya panen dilakukan pada waktu malam hari, katanya lebih jinak dibandingkan pada waktu siang hari, tapi dengan panen malam hari, lebah biasanya tidak bisa kembali lagi ke sarangnya atau jatuh ke air dan mati, karena lebah memerlukan matahari untuk membantu navigasinya.

Asapan yang digunakan dengan menggunakan akar kayu tidak hanya mengusir lebah tetapi juga membunuh, karena lebah menyerang bara api ketika malam. Dengan teknik pengasapan dengan smoker bisa mengatasi jumlah kematian lebah.

Sarang lebah tidak dipanen seluruh sarang, tetapi hanya kepala madu tempat lebah menyimpan madunya. Dengan demikian, lebah dapat membuat kembali kepala madu dan mengisinya kembali jika pakan cukup banyak musim itu. Dengan begitu, bisa lebih dari sekali panen satu sarang semusim.

Selain itu, teknik perbaikan kualitas juga diterapkan dengan cara melakukan pemurnian madu tersebut. Teknik pemurnian ini dilakukan dengan cara mengambil hanya kepala madu dan mengiris sarangnya untuk memisahkan madu dari sarangnya. Cara lama adalah dengan memeras sarang mengunakan tangan dan tercampur dengan pollen.

Kegiatan perbaikan teknik panen dan kualitas madu lebah hutan ini terus dilaksanakan ke kampung-kampung di Danau Sentarum hingga saat ini. Sekarang ini kelompok petani madu hutan (periau) di Danau Sentarum sudah membentuk Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) dan baru mendapatkan sertifikasi organik Mei 2007 lalu dari BIOCert. Hingga sekarang tidak kurang ada 5 periau atau kelompok petani madu binaan yang menerapkan sistem baru ini yang memproduksi madu asli dengan kualitas terjamin dan jumlahnya akan terus bertambah. Tahun ini ada sepuluh kampung yang menyatakan kesediaannya menjadi anggota asosias.

Jika anda pencari madu hutan asli, Riak Bumi tidak hanya bisa menyediakan madu hutan asli tetapi berkualitas dan organik. Silahkan segera hubungi kami.