Lilin Lebah

Sebelum adanya kegiatan pemasaran dan produksi lilin lebah ini, belum pernah dijual lilin lebah. Biasanya dibuang saja atau hanya dalam jumlah sedikit dipakai untuk melicinkan benang untuk menjahit.

Berdasarkan survey pasar, ternyata ada pangsa pasar yang berminat membeli lilin lebah  dengan harga yang relatif lebih tinggi dari madu. Bahkan lilin lebah dapat diolah menjadi dian dan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Untuk itu pada tahun 1995 kita bersama masyarakat mengumpulkan lilin lebah dan memproduksi lilin bambu (bamboo candle) dan  lilin celup (dipped candle) setelah mendapatkan pelatihan cara membuatnya, serta memulai membantu memasarkannya.

Sama seperti halnya madu, lilin lebah juga mengalami stagnasi produksi pada tahun 1998 sampai 1999, karena adanya asap dari kebakaran hutan pada tahun 1997 tersebut. Pada tahun 2000 ketika musim panen madu mulai produksi kembali, lilin sudah ada yang membeli di tingkat masyarakat. Hingga saat ini, Riak Bumi masih mencari peluang untuk memasarkan produk ini.

Kalau normalnya produksi panen madu di Danau Sentarum 20 ton pertahun per musim, maka mestinya ada 10 : 1 produksi lilin dari sarang lebah. Itu artinya ada sekitar 2 ton per tahun dari kawasan ini.