Tengkawang dan buah-buahan lokal: 'perekat' untuk pengelolaan DAS secara terpadu?

Ditulis oleh: Valentinus Heri, Denny Onesimus Bakara, Hermanto (Yayasan Riak Bumi) 

Co-author: Agus Mulyana, Moira Moeliono, Elizabeth Linda Yuliani (CIFOR)

 

Pendahuluan

Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia, mengalir sepanjang 1.143 km dari hulunya di Pegunungan Müller hingga ke Laut Cina Selatan. Luas DAS Kapuas mencapai mencapai 9,9 juta hektar (MacKinnon et al. 1996), namun pada tahun 2008 sekitar 600.000 hektar di antaranya dinyatakan dalam kondisi sangat kritis dan 2,2 juta hektar kritis (Kompas 2008). Kerusakannya yang cukup luas membuat DAS Kapuas dimasukkan sebagai satu dari 108 DAS kritis di Indonesia berdasarkan SK 328/Menhut-II/2009, dan menjadi salah satu DAS prioritas nasional untuk dipulihkan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015).

Hidrologi Kapuas sangat bergantung pada kondisi lahan basah Danau Sentarum yang luasnya lebih dari 130.000 hektar, belum termasuk luas DAS dan sub-DAS jaringan sungai yang masuk kedalamnya. Salah satu sungai utama yang memasok air ke Danau Sentarum adalah sungai Labian-Leboyan yang berhulu di Betung Kerihun. DAS Labian-Leboyan meliputi area seluas 81,000 hektar (Astrono, 2018). 

Agar fungsi hidrologis DAS terjaga tanpa mengabaikan kebutuhan hidup masyarakat yang tinggal di sana, diperlukan pengelolaan DAS secara terpadu. Pendekatannya tak hanya fokus pada isu kehutanan dan hidrologi, namun lebih menekankan pada pengelolaan sumberdaya alam sebagai proses pembangunan sosial-ekonomi setempat (FAO 2006). Pengelolaan DAS secara terpadu diatur dalam Undang-Undang no. 32/1999 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan khususnya di Kalimantan Barat juga melalui Peraturan Daerah no. 2/2018 yang menekankan pentingnya aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian DAS. Perda ini memberi kewenangan kepada pemerintah kabupaten untuk mengatur sungai di wilayahnya, sehingga menjadi tanggung jawab dinas kehutanan melalui kerjasama antara para pihak terkait dari hulu ke hilir. Sebelumnya,  berdasarkan UU no. 23/2014 tentang pemerintah daerah, sungai menjadi wewenang pemerintah provinsi. 

Sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan di DAS melalui pengelolaan SDA, Riak Bumi mendampingi masyarakat kampung Kluin dan Mensiau untuk meningkatkan pendapatan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK). Tulisan ini menguraikan pengalaman kami, terutama temuan dan pembelajaran penting selama proses pendampingan, kunci keberhasilan, tantangan dan strategi yang kami lakukan. Tulisan ini kami awali dengan gambaran umum mengenai lokasi, alasan-alasan utama kami memilih HHBK tengkawang, ringkasan proses pendampingan, serta pembelajaran penting serta rekomendasi.

Gambaran umum Daerah Aliran Sungai (DAS) Labian-Leboyan

DAS Labian-Leboyan terletak di antara dua taman nasional yaitu Danau Sentarum dan Betung Kerihun, karenanya dikenal sebagai 'koridor' yang menjadi lintasan dan habitat satwa liar termasuk orangutan Borneo (Pongo pygmaeus pygmaeus). Di bagian hulu sebagian besar berstatus Hutan Lindung (HL), di bagian hilir Hutan Produksi (HP) dan muaranya Danau Sentarum merupakan Taman Nasional (TNDS) (Gambar 1 kiri). Berdasarkan data Colupsia (2015), tata guna dan tutupan lahan di DAS ini terdiri dari hutan yang relatif masih baik 65,79%, hutan terdegradasi 14,75%, pertanian tradisional (ladang, damun, kebun) 14,47%, dan lahan basah 4,99% (Gambar 1 kanan).

Dari survey yang kami lakukan pada awal 2018, di sepanjang DAS Labian-Leboyan ada 16 kampung (delapan desa) dengan jumlah penduduk total 3.489 jiwa (1104 KK), terdiri dari 1.815 laki-laki dan 2.331 perempuan. Ada tiga kelompok etnis utama, yaitu Iban di bagian hulu sungai, Embaloh di tengah, dan Melayu di hilir. Mata pencaharian Iban dan Embaloh umumnya bertani (ladang), berkebun karet, menangkap ikan, dan mengumpulkan HHBK termasuk madu, sedangkan Melayu umumnya menjadi nelayan ikan tangkap dan budidaya, juga berkebun karet dan petani madu hutan. Dalam FGDs dengan masyarakat, mereka menceritakan tantangan utama yang dihadapi selama ini adalah banjir besar yang menyebabkan gagal panen, kesulitan sumber air bersih untuk minum, penurunan hasil tangkapan ikan, akses yang sulit dan transportasi yang mahal terutama di hulu, dan konflik pemanfaatan kayu antara masyarakat (yang kampungnya masuk di dalam batas taman nasional) dengan balai taman nasional. Selain itu, masyarakat mengungkapkan kekhawatiran terkait adanya perusahaan sawit yang terus mencari lahan baru. Masyarakat khawatir karena di peta pemerintah, wilayah kampung mereka termasuk kategori Hutan Produksi. 

Pemilihan jenis HHBK dan penyusunan rencana kegiatan secara partisipatif

Kami memilih jenis HHBK yang sesuai dengan tujuan kegiatan, yaitu perlindungan DAS dan peningkatan pendapatan masyarakat. Karena itu, kami mencari jenis lokal yang memenuhi kriteria berikut ini (disarikan dari Chokkalingam et al. 2005, Uprety et al. 2012, Yuliani et al. 2016): (a) bermanfaat bagi masyarakat lokal; (b) memiliki makna sosial atau budaya; dan (c) memiliki fungsi ekologis, misalnya dapat mencegah erosi, membantu proses infiltrasi air, dan/atau menyuburkan tanah. 

Dengan menggunakan metode semi-structured indepth interviews (SSI), focus group discussion (FGDs) dan narrative walk yang melibatkan masyarakat kampung Kluin dan Mensiau, kami mendapatkan informasi lebih mendalam mengenai beragam HHBK yang berpotensi ekonomi, namun hanya tengkawang yang memenuhi seluruh kriteria di atas (diuraikan di bagian berikutnya). Selain tengkawang, masyarakat menganggap pentingnya buah lokal, karet dan kopi sebagai HHBK yang perlu dikembangkan. Setelah mengidentifikasi jenis-jenis HHBK, serta pemanfaatan dan pengelolaannya secara tradisional, langkah selanjutnya adalah proses perencanaan kegiatan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat. Kegiatan yang diperlukan adalah proses pendampingan dari 'hulu ke hilir' dalam arti dari produksi hingga pemasaran, termasuk membuat jaringan petani tengkawang (diuraikan di bawah ini).

Tengkawang

Ekologi tengkawang

Tengkawang (Shorea spp.), dikenal juga sebagai engkabang (Iban) atau kakawang (Embaloh), adalah jenis pohon asli hutan Indonesia bagian barat. Jenis ini tumbuh dengan baik di hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A (monsoonal) dan B (ekuatorial), pada tanah latosol, podsolik merah kuning dan podsolik kuning pada ketinggian sampai 1300 m dpl (Martawijaya et al. 1981). Di Indonesia, ada tigabelas jenis tengkawang yang dilindungi (PP no. 7/1999), delapan di antaranya ada di Kalimantan Barat.  

Selain yang tumbuh alami dan tersebar di hutan, tengkawang juga banyak ditanam oleh masyarakat di kebun, damun (bekas ladang), tepi sungai dan tembawai (situs keramat, bekas lokasi rumah panjang). Gambar 2 menunjukkan hasil pemetaan kami mengenai sebaran tengkawang di desa Mensiau. 

Sejak dulu masyarakat Dayak telah menggunakan tengkawang (diuraikan di bawah ini), dan karenanya mereka juga memiliki banyak pengetahuan dan persepsi lokal. Saat menyusuri sungai, masyarakat Kluin dan Mensiau menunjukkan sempadan sungai yang ditumbuhi tengkawang umumnya lebih terlindung dari 'tusur' (erosi). Menurut mereka, akar tengkawang kuat mengikat tanah. Masyarakat juga menuturkan bahwa tengkawang yang tumbuh di sempadan sungai lebih subur dan berbuah lebih banyak dibandingkan yang tumbuh jauh dari sungai.

Nilai sosial budaya: pengetahuan dan kelembagaan lokal pengelolaan tengkawang

Di provinsi Kalimantan Barat, minyak biji tengkawang telah dimanfaatkan secara tradisional sejak dulu, termasuk juga oleh masyarakat Kluin dan Mensiau yang mewarisi pengetahuan mengenai tengkawang secara turun temurun. Literatur tertua yang kami peroleh tentang minyak biji tengkawang dipublikasikan pada tahun 1886 oleh William Burck. 

Ada sembilan jenis tengkawang yang dikenal oleh masyarakat Iban di Kapuas Hulu: ajul, engkabang, engkabang bintang, engkabang rambai, engkabang tukul, engkabang tungkul, lelanggai, seput undai dan tegelam. Namun hanya yang berbuah besar, antara lain engkabang dan engkabang tungkul, yang paling diminati sebagai penghasil minyak. Selain tumbuh secara alami, tengkawang berbuah besar  juga ditanam di area rumah panjang dan tembawai. Karena itu tengkawang juga dianggap sebagai salah satu pusaka dan penanda hak kepemilikan keluarga dan komunal wilayah rumah panjang. "Dimana ada tembawai, di situ ada pohon tengkawang," demikian ungkapan masyarakat Iban. 

Musim panen raya jenis tengkawang berbuah besar terjadi setiap 3-4 tahun sekali. Di musim tengkawang berbunga, hampir semua jenis buah-buahan setempat biasanya akan berbunga juga. Saat itu menjadi pertanda bagi masyarakat untuk mengadakan upacara adat ngampun, yaitu memohon ampunan kepada penguasa alam agar dijauhkan dari serangan penyakit, yang dipercayai sebagai akibat dari musim bunga tengkawang dan buah-buahan setempat. Seluruh warga di kampung terlibat dalam upacara adat ngampun. 

Untuk pemanenan, menurut para orang tua sebenarnya ada aturan adat, yang mengatur antara lain kapan mulai panen, siapa yang dilibatkan, pembagian kerja termasuk perempuan dan anak-anak, serta pembagian hasil yang jelas dan adil. Biji tengkawang lalu diolah secara tradisional menjadi minyak untuk menggoreng, lampu pelita, pengobatan dan lain-lain. Proses ekstraksi minyak dilakukan secara tersembunyi dan jauh dari permukiman, karena masyarakat meyakini bahwa jika ada yang melihat proses ekstraksi dan banyak bertanya, minyak yang dihasilkan tidak sesuai harapan bahkan gagal. 

Bagian-bagian lain pohon tengkawang juga dapat dimanfaatkan. Getahnya di jaman dulu digunakan untuk bahan bakar penerangan dan menambal perahu, dan sekarang terkadang dijual dengan harga sekitar Rp 5000/kg jika ada pembeli yang datang ke kampung. Daun yang masih segar digunakan untuk membungkus kue tumpe, yaitu kue yang disediakan dalam upacara adat dan tidak bisa digantikan, sebagai sajian untuk roh nenek moyang suku Dayak di Kapuas Hulu. Selain untuk membungkus kue tumpe, daunnya digunakan juga untuk pembungkus makanan lain, membuat kue dan bahan pewarna alami tenun tradisional.

Namun menurut masyarakat, para pemuda di kampung pada umumnya kurang mengenal aturan adat pemanenan dan pemanfaatan tengkawang. Di samping itu, belum ada kelembagaan lokal yang khusus mengatur kepemilikan tengkawang. Kedua hal ini, kurangnya pengetahuan mengenai aturan adat dan belum adanya kelembagaan lokal, perlu mendapat perhatian khusus terutama di saat mulai ada peningkatan nilai ekonomi, untuk mencegah konflik akibat persaingan atau rebutan kepemilikan.

Nilai ekonomi dan manfaat lainnya

Tengkawang sempat menjadi komoditi andalan Kalimantan Barat, terutama tengkawang tungkul. Di awal 1990an, ekspor tengkawang mencapai 3519.2 ton dengan nilai US$ 7.707.800 (Winarni et al, 2005). Digunakannya tengkawang sebagai maskot provinsi Kalimantan Barat dengan burung enggang 

menunjukkan pentingnya tengkawang di provinsi ini (Gambar 3). Harga tengkawang dilaporkan menurun akibat diterbitkannya Permendag No 44/M-DAG/PER/7/2012 tentang Barang Dilarang Ekspor (https://moneter.id/57598/kadin-kalbar-cabut-permendag-no-44-2012). 

Di sisi lain, karena berasal dari keluarga meranti, kayu tengkawang juga dikenal sebagai kayu berkualitas tinggi untuk bangunan di tempat berair atau rawa. Daya apungnya yang tinggi serta ketahanannya terendam di air membuat jenis ini tidak tersaingi sebagai bahan rumah lanting. Harga kayu tengkawang saat itu yang berkisar antara Rp. 300.000 - Rp. 600.000 per meter kubik dianggap lebih menarik dibandingkan pendapatan dari buah dan minyak yang panennya hanya 3-4 tahun sekali. Akibatnya pohon tengkawang di hutan-hutan Kalimantan semakin berkurang, namun baru disadari ketika permintaan dan harga tengkawang kembali meningkat. Beruntung, populasi tengkawang di Kapuas Hulu cukup terjaga karena nilai sosial dan budaya yang penting bagi masyarakat Iban. 

Dari penelitian kami mengenai kapasitas poduksi tengkawang buah besar di empat kampung yaitu Entebuluh, Engkadan, Kluin dan Kelawik pada tahun 2015, total ada sekitar 5.600 pohon (Atmanto et al. 2015). Satu pohon bisa menghasilkan 200-400 kg buah segar dalam satu musim, atau total 1.100-2.200 ton buah segar (atau 275-550 ton kg buah kering) di keempat kampung tersebut. Dengan harga saat itu Rp. 8.000/kg kering, hasil panen sebenarnya bisa mencapai Rp. 2,2-4,4 milyar. Namun masyarakat hanya mengambil semampunya, dan keempat kampung hanya menghasilkan total 47 ton buah kering. "Waktu panen raya, buah tengkawang banyak sekali. Meskipun hanya sekali dalam tiga atau empat tahun, kami tidak mampu ambil semua, jadi hanya ambil semampu kami," kata masyarakat saat diskusi di rumah panjang. 

Ringkasan Kegiatan Pendampingan

Hasil pengumpulan informasi di atas menjadi bekal pengetahuan kami untuk melangkah ke tahap pendampingan, yang menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) untuk mendorong pembelajaran di antara semua yang terlibat. Kegiatan inti terdiri dari siklus Refleksi - Perencanaan - Pelaksanaan (aksi) - Monitoring/evaluasi - Refleksi - Penyesuaian rencana dan aksi berikutnya, demikian seterusnya. PAR hanya akan efektif jika ada isu 'pengikat' yang menjadi kebutuhan bersama (ref). Dalam kegiatan kami, isu pengikat itu adalah upaya peningkatan pendapatan masyarakat dari tengkawang, untuk mendukung pengelolaan DAS terpadu. 

Dari proses refleksi awal bersama masyarakat Kluin dan Mensiau pada tahun 2014, serta focus group discussion (FGD) bersama para stakeholders tengkawang di Kalimantan Barat (petani dan pengolah buah tengkawang, agen pengumpul, dinas kehutanan dan perkebunan, BP-DAS, BKSDA, peneliti dari Universitas Tanjung Pura, beberapa LSM, dan perusahaan swasta), peserta berhasil mengidentifikasi beberapa potensi yang bisa menjadi 'modal' namun perlu diperkuat, yaitu (a) adanya pengetahuan lokal, nilai sosial-budaya dan aturan adat mengenai pemanfaatan dan kepemilikan tengkawang, serta tata guna lahan secara tradisional; (b) identifikasi sebaran tengkawang di tiap kabupaten dengan musim panen yang berbeda-beda sehingga memungkinkan kerjasama; (c) adanya kelompok-kelompok petani tengkawang di berbagai lokasi; dan (d) munculnya kesadaran perlunya bekerjasama, berbagi pengalaman dan pembelajaran antar petani tengkawang di berbagai lokasi. 

Selain potensi, teridentifikasi juga tantangan, yaitu mulai dari produksi biji/buah, pengolahan pasca panen, pemasaran, hingga aspek kelembagaan adat dan kebijakan formal. Produksi biji yang hanya 3-4 tahun sekali membuat tengkawang dianggap sumber pendapatan tidak tetap/tidak pasti. Produksi buah sekaligus banyak namun cepat busuk, sementara kemampuan mengeringkan dan mengolahnya menjadi minyak juga terbatas.  Di tahap pemasaran, tantangannya antara lain konsumen skala besar (industri) kurang tertarik menggunakan minyak tengkawang karena suplainya tidak kontinu, adanya praktek monopoli dan penerapan kuota secara sepihak oleh perusahaan besar. Akibatnya di saat panen raya, banyak penghasil tengkawang menjual buah kering atau minyak ke pengepul dengan harga relatif rendah. Sementara itu, anggota masyarakat yang sudah berusia lanjut mengungkapkan perlunya sumber pendapatan yang sesuai untuk fisik mereka. 

Tantangan lainnya yang dirasakan masyarakat adalah kurangnya panduan atau kebijakan standar kualitas minyak, serta pemahaman yang berbeda-beda antar para pihak mengenai boleh tidaknya mengambil dan mengolah HHBK dari jenis yang dilindungi dan dari kawasan hutan lindung. Selama ini aturan yang ada terbatas pada cara pemungutan, pemasaran dan ekspor biji, namun belum ada aturan tata cara perijinan produksi, penjualan dan ekspor minyak tengkawang. Ketidakjelasan peraturan ini membuat pemasaran minyak baru sebatas di dalam negeri dan belum bisa ekspor, padahal sangat berpotensi. Kebijakan pelestarian tengkawang secara in-situ juga kurang jelas, ditandai dengan banyaknya ijin yang dikeluarkan pemerintah untuk alih fungsi hutan dan habitat tengkawang lainnya. Pemerintah sempat membuat sentra produk unggulan, termasuk tengkawang di Kalimantan Barat, namun para penggiat tengkawang merasa bahwa promosi dari pemerintah kurang.

Dari refleksi ini, kami memfasilitasi masyarakat dan para pihak terkait membuat rencana dan kegiatan bersama prioritas, yaitu: penguatan kelembagaan lokal dan aturan-aturan adat terkait tengkawang; pelatihan teknologi budidaya tengkawang dgn sistem sungkup (berkerja sama dengan Yayasan Dian Tama); upaya pengembangan sumber pendapatan alternatif peningkatan teknologi pasca panen komoditas lain (karet, kopi) melalui studi banding ke Sanggau dan Kubu Raya; pembentukan jaringan tengkawang Kalimantan Barat dan kerjasama kelompok produsen tengkawang untuk menjamin kontinuitas suplai; dan pembuatan pembibitan beragam komoditas untuk menjadi sumber pendapatan alternatif untuk masyarakat termasuk lansia. Riak Bumi juga melakukan beberapa eksperimen untuk membuat alat sederhana pemroses biji menjadi minyak yang efisien dan higienis, yang dikembangkan dari alat tradisional 'alat apit tengkawang'. 

Selain kegiatan dengan masyarakat dan penggiat tengkawang, di awal 2017 kami juga mengadakan lokakarya yang diikuti berbagai lembaga yang pernah atau sedang melaksanakan kegiatan terkait pengelolaan DAS terpadu, untuk berbagi pembelajaran dan membangun komunikasi lintas lembaga (ref). Dalam lokakarya, seluruh peserta mengungkapkan perlunya kesadaran, kemauan berusaha dan kerjasama semua pihak, dari hulu  ke hilir, untuk mewujudkan kelestarian DAS. Selain itu, peserta juga melihat pentingnya penggunaan spesies kunci sebagai 'perekat' atau isu utama dalam membangun koordinasi antar masyarakat dan antar lembaga. Dalam hal ini, kami melihat tengkawang berpotensi menjadi spesies kunci tersebut, khususnya di DAS Labian-Leboyan, mengingat manfaat ekonomi, sosial dan ekologinya, serta banyaknya lembaga yang kegiatannya terkait tengkawang. 

Dalam proses refleksi dan perencanaan bersama, masyarakat mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan di luar tengkawang, misalnya mengenai Hutan Desa Mensiau yang baru diresmikan pada tahun 2017 melalui SK No. SK.5740/ Menlhk-PSKL/PKPS/PSL.0/10/2017. Masyarakat menanyakan arti dan manfaat Hutan Desa, cara memperoleh manfaat tersebut, serta status wilayah adat yang dijadikan Hutan Desa. Untuk merespon pertanyaan-pertanyaan masyarakat, kami merencanakan untuk memfasilitasi komunikasi antara masyarakat dengan pihak kunci terkait lainnya agar pertanyaan-pertanyaan masyarakat bisa disampaikan langsung.

Pembelajaran dan rekomendasi

Dari pengalaman kami, beberapa kunci keberhasilan pengelolaan DAS terpadu adalah penggunaan jenis-jenis HHBK lokal yang memang telah 'berakar' di masyarakat dan dikelola menggunakan pengetahuan tradisional dan aturan adat; serta adanya fasilitator handal, yaitu mampu memfasilitasi pertemuan multipihak dengan beragam kepentingan dan memiliki kemauan kuat untuk mencari strategi. Pengetahuan tradisional dan aturan adat merupakan elemen mendasar kelembagaan lokal. Peran strategis pendamping (fasilitator) adalah memperkuat kelembagaan lokal, misalnya kelembagaan adat atau kelompok petani komoditas tertentu, untuk mampu menghadapi perubahan dan dinamika pasar dan kebijakan. Pendampingan perlu dilakukan dengan cara-cara yang menumbuhkan kreativitas, percaya diri, kepemimpinan, kepedulian terhadap masyarakat dan alam, dan ekonomi lokal yang 'tahan banting' (economic resilience capacity). 

Memang tak mudah. Diperlukan kesiapan mendampingi kegiatan mulai dari produksi (penanaman), pemanenan, produksi minyak, pengorganisasian penggiat tengkawang, pemasaran, hingga membangun kemandirian masyarakat. Pengalaman dari kegiatan madu lebah liar bersama masyarakat di Danau Sentarum menjadi modal penting. Saat itu, proses pendampingan dari awal hingga berhasil menjadi pendapatan yang dapat diandalkan, termasuk membangun kelembagaan lokal, memakan waktu sekitar 10 tahun.

Kesimpulan

Dengan pendampingan yg tepat dan teknologi sederhana yang dikembangkan dari peralatan tradisional setempat, tengkawang dan komoditas tumbuhan lokal dapat berperan penting dalan peningkatan ekonomi, sosial dan lingkungan utk pengelolaan DAS. Namun perlu (a) dukungan aturan tata niaga minyak tengkawang, mulai dari pemungutan buah, produksi minyak, penyimpanan, pengangkutan dan ekspor; (b) kepastian tenurial lahan; (c) proses pembelajaran dari tempat lain: produksi, kelembagaan, jaringan, marketing, pabrik skala kecil dan menengah; dan (d) permodalan.

Ucapan Terima Kasih

Tulisan ini merupakan salah satu hasil dari Proyek Pengelolaan DAS Terpadu untuk Meningkatkan Mata Pencaharian Lokal dan Konservasi Keanekaragaman Hayati di Indonesia, yang terlaksana atas dukungan USAID melalui program Partnerships for Enhanced Engagement in Research/ PEER (USAID agreement no. AID-OAA-A-11-00012). Penulis mengucapakan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan para pihak kunci di lokasi penelitian dan pendampingan kami di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kami juga berterima kasih kepada Dr. Ani Nawir dan Sri Muslimah, serta seluruh kawan-kawan di CIFOR dan Yayasan Riak Bumi yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini.

Bahan Bacaan

Astrono, U. 2018. Peta DAS Labian-Leboyan. Colupsia project, CIRAD, CIFOR.

Burck, W. 1886. Minjak Tengkawang: En Andere Weinig Bekende Plantaardige Vetten uit Nederlandsc-Indie. Batavia Landsdrukkerij.

Chokkalingam, U., Sabogal, C., Almeida, E., Carandang, A., Gumartini, T., Jong, W., Brienza, S., Lopez, A., MurniatiNawir, A., Wibowo, L., Toma, T., Wollenberg, E., Zaizhi, Z., 2005. Local participation, livelihood needs, and institutional arrangements: three keys to sustainable rehabilitation of degraded tropical forest lands. In: Mansourian, S., Vallauri, D., Dudley, N. (Eds.), Forest Restoration in Landscapes: Beyond Planting Trees. Springer, New York, pp. 405e414.

Colupsia. 2015. http://www1.cifor.org/fileadmin/subsites/colupsia/maps/Kapuas_Hulu/Vegetasi/indeksvegetasi.htm)

FAO. 2006. The new generation of watershed management programmes and projects. FAO Forestry Paper 150. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2015. Rencana Strategis Tahun 2015-2019 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Kompas. 2008. 2,2 juta Hektare DAS Kapuas Kritis. https://ekonomi.kompas.com/read/2008/09/09/2152469/2.2.juta.Hektare.DAS.Kapuas.Kritis 

MacKinnon, K., Hatta, G., Halim, H., dan Mangalie, A. 1996. The Ecology of Kalimantan, Indonesian Borneo. Periplus Editions, Hong Kong. 

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K., dan Prawira, S.A. 1981. Atlas Kayu Indonesia I. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutana, Depertemen Kehutanan, Bogor.

Atmanto, L., Bakara, D.O., Sami, J. 2015. Laporan Studi Potensi Tengkawang di Kecamatan Batang Lupar dan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Riak Bumi, Pontianak.

Uprety, Y., Asselin, H., Bergeron, Y., Doyon, F., Boucher, J.F. 2012. Contribution of traditional knowledge to ecological restoration: Practices and applications. Ecoscience 19(3): 225-237.

Winarni, I., Sumadiwangsa, E.S., Dendy, S. 2005. B

eberapa Catatan Pohon Penghasil Biji Tengkawang. Info Hasil Hutan, 11(1): 17-25.

Yuliani EL, Mulyana A, Adnan H, Manalu P, Achdiawan R, Tias P, Moeliono M, Balang, Teras. 2015. Agroforestry and Forestry in Sulawesi series: Local perceptions of forest ecosystem services and collaborative formulation of reward mechanisms in South and Southeast Sulawesi. Working paper 210. World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia. DOI: http://dx.doi.org/10.5716/WP15721.PDF