Mengapa Orang Iban Menjaga Orangutan?

penulis: Valentinus Heri

"Karena aku telah menjelma menjadi seekor mayas (orangutan), maka keturunan kamu nanti, cucu dan cicit kamu, jangan sekali-kali membunuh mayas".

Kampung Engkabang adalah salah satu dusun di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tempat dimana Suku Dayak Iban masih tinggal di rumah panjang tradisional (rumah panjai) dan mereka masih memegang teguh adat dan budaya serta kepercayaan terhadap leluhur, demikian juga mereka masih menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah tentang kepercayaan mereka untuk tidak boleh membunuh satwa liar termasuk orangutan.

Pada suatu waktu, di kampung Engkabang terdapatlah seorang kakek yang bernama Lelanggai dan seorang anaknya bernama Ajul. Karena sudah tua, kakek Lelanggai sakit keras dan kemudian meninggal dunia. Tak lama setelah kakek Lelanggai meninggal, belum selesai masa berkabung atau dalam bahasa Iban disebut dengan “ketas ulit” yang artinya belum sampai tujuh hari ayahnya meninggal. Di suatu malam, bermimpilah anaknya yaitu Ajul bertemu dengan ayahnya.

Kata ayahnya: “Anak ku, aku akan memberi kamu jimat, pergilah untuk mengambilnya”. Anaknya bertanya: “Dimanakah kamu menyimpannya ayah?” Lalu ayahnya menjawab: “Di sana, di pohon tempat dimana sungkup atau peti mati saya diletakkan". "Baiklah ayah" kata anaknya. Beberapa saat kemudian, anaknya turun dari rumah panjang, tapi hanya sampai di kaki tangga rumah panjang, karena takut, lalu dia kembali lagi ke rumah.

Berselang beberapa waktu kemudian, saat malam tiba, dia bermimpi lagi, bertemu dengan ayahnya, lalu ayahnya bertanya: "Kapan kamu mengambil jimat itu anakku?" Jawab anaknya: "Besok saya akan ambil jimat tersebut ayah". "Baiklah, kalau begitu saya menunggu kamu di pohon sungkup ini", kata ayahnya. Sungkup atau sentubung adalah istilah dalam bahasa Iban untuk peti mati terbuat dari kayu keras seperti jenis kayu tekam yang ukurannya cukup besar, lalu dibelah dua, kemudian dibagian dalam kayu di pahat untuk menyimpan jenazah orang meninggal.

Setelah bermimpi bertemu dengan ayahnya tadi malam, pagi itu dia berangkat kembali ke tempat yang dijanjikan oleh ayahnya. Namun sampai di halaman rumah panjang, dia kembali lagi. Dalam hatinya dia bertanya: “Mengapa saya merasa takut? padahal dari rumah tadinya, saya berani, tetapi kenapa sampai di tanah saya merasa takut?”, gumam anaknya dalam hati. Padahal menurut keterangan orang di rumah panjang yang pernah mengenal Ajul, orangnya kekar dan perawaknnya besar dan tinggi, tidak sepantasnya dia takut. Setelah pulang, orang lain merasa heran dengan tingkah laku Ajul, lalu salah seorang warga rumah panjang menyapa: "Apa yang sedang kamu lakukan Ajul? Lalu Ajul menjawab: "Saya tadi diminta oleh ayah saya mengambil jimat" sambil kelihatan agak bingung dan takut bercampur baur.

Pada malam ketiganya, kemudian dia bermimpi lagi, “Lama betul saya menunggu kamu anakku, tapi kamu tidak juga datang, ambilah jimat kamu ini!”, seru ayahnya agak kesal. “Iya besok saya akan mengambilnya ayah” jawab anaknya. “Baiklah, kalau begitu saya menunggu kamu disini di pohon bekas tebangan, disitu saya duduk menunggu kamu”, lanjut ayahnya. Anaknya bertanya, “Dari mana jalan yang akan saya lalui untuk mencapai tempat itu ayah?” Ayahnya bilang; “Dari ujung batang kayu bekas tebangan sebagai titian, kamu terus melalui batang kayu itu, sesampai di pangkal bekas tebangan pohon itu, kamu akan bertemu dengan saya nanti”.

Segera setelah bangun, dini hari pagi-pagi benar setelah mulai ada cahaya dari matahari terbit, dia kemudian turun. Tidak ada apapun yang dia bawa, padahal biasanya orang Iban kalau bepergian ke hutan selalu membawa parang. Kali ini, tidak ada satupun yang dia bawa, baik parang maupun perlengkapan lainnya seperti tombak dan senjata tajam lainnya, tidak dibawanya. "Mungkin ayah ingin mencobai saya", kata anaknya dalam hati. "Baiklah, tidak mengapa!" lanjut anaknya kali ini dengan penuh yakin.

Kemudian dia pun datang ke tempat dimana ayahnya berjanji akan bertemu dengan dia. Dia pun mulai meniti kayu bekas tebangan itu sambil menunduk memperhatikan titian, takut terjatuh ke tanah yang berlumpur dan becek. Dia terus berjalan, mulai dari ujung kayu tersebut dan menelusurinya secara perlahan-lahan dan hati-hati, hingga sampailah dia ke pangkal kayu tersebut. Ketika telah sampai dekat dengan sisa bekas tebangan kayu yang masih berdiri tersebut, diapun menengadah melihat ke atas kayu yang dimaksudkan ayahnya tersebut, seketika itu terkejutlah dia bukan kepalang. “Ah hantu ini”, katanya. Lalu dia pun dengan sekejap mata lari meninggalkan tempat itu dan pulang. “Hantu itu, bukan ayah saya”, kata Ajul sambil setengah berteriak.

Di situ dia melihat seekor orangutan, sedang duduk di atas sisa tebangan kayu yang masih berdiri tersebut, sedang duduk dan membawa “kambut” atau tas selempang tempat menyimpan barang bawaan terbuat dari anyaman daun pandan yang biasa dipakai orang suku Iban kalau bepergian. Biasanya tas tersebut untuk menyimpan barang pernak-pernik yang berukuran kecil seperti buah pinang untuk menyugi (menyirih pinang), korek api, rokok, tembakau, jimat dan peralatan yang digunakan di jalan.

Menurutnya, bahwa orangutan itu besar, jenis mayas rambai katanya, orangutan itu berbulu panjang. Jadi kambut yang di bawa oleh orangutan itu adalah kambut yang ayahnya biasa bawa waktu dia masih hidup, yang pada saat dia meninggal kambut itu dibawa dalam peti mati atau sungkup. Namun belakangan Ajul baru sadar dan mengenal, bahwa itu memang ayahnya, karena ayahnya tersebut memang memakan pinang semasa hidupnya.

Lalu ketika pulang, orang di rumah panjang menanyakan kepada Ajul, “Mengapa kamu tergesa-gesa?” kata mereka. “Ayah saya menyuruh saya mengambil jimat, tapi bukan ayah saya tadi yang saya temukan, melainkan seekor mayas”, sahut dia. Setelah malam berikutnya tiba, tidurlah Ajul dan dia pun bermimpi lagi bertemu dengan ayahnya. “Nah anakku, yang kamu temukan tadi itu bukan mayas, itu hanya penampakan luar dari badan ayahmu ini. Saya memang meninggal menjelma menjadi seekor mayas”, kata ayahnya. "Oleh karena itu anakku, keturunan kamu nanti, cucu dan cicit kamu, jangan sekali-kali membunuh mayas. Karena saya telah menjadi seekor mayas” lanjut ayahnya.

“Kamu juga begitu anakku, seandainya tadi kamu bisa mengambil jimat yang aku janjikan kepadamu, tidak ada sesuatupun yang kamu inginkan yang tidak kamu dapatkan, seperti kedudukan, kekuasaan dan kekayaan, kamu bisa dapatkan dengan jimat dari saya. Namun, karena kamu tidak dapat mengambil jimat tersebut, maka kamu tidak dapat meraih kedudukan dan kekayaan tersebut. Meski begitu, racun apapun jenisnya yang diberikan orang kepada kamu, tidak akan bisa membunuh kamu” demikian ayahnya menyampaikan pesannya kepada sang anaknya si Ajul.

Itu sebabnya semua keturunan kakek Lelanggai, hingga sekarang ini pantang membunuh orangutan.

Cerita ini adalah kisah nyata yang dituturkan secara turun temurun oleh keluarganya, tetapi nama dan tempat disamarkan.

Copyright @Riak Bumi. Tidak diijinkan menggunakan bagian apapun dari tulisan ini tanpa seijin kami.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram